Selasa, 28 April 2009

Erry Suharyadi: Green and Clean Surabaya

by Tony, Jeffry, Riki, Karno, and Dwi

In 2005, Jawa Pos Group initially conducted Surabaya Green and Clean Program aimed to promote Jawa Pos newspaper with targeting poor people who living in kampongs. Jawa Pos is the biggest business on new papers. I would rather to mention those who living in kampong as poor people because most of them are living under poverty line of $2 a day. Just like any other metropolitan cities, Surabaya comprised into many malls, sky-scrappers, real estate area, but, on the other side, slump area also spreading everywhere. Most of the kampongs were identified as slump area.

While the city government of Surabaya was in local political transition in 2004, the city was suffering unmanaged waste system. People who living in kampong was the most suffering dweller rather than those who living in modern real estate. To get access into kampongs, Jawa Pos Group was building partnership with PKK (women organization) and Karang Taruna (youth organization) to overcome the environment issue.

Through newspaper coupon on Jawa Pos newspaper, the program provided assistance grant for environment improvement. The first activity of Green and Clean Program was “bersih-bersih berhadiah” (grant for clean) which amount Rp12.5 million (around $1000). Those kampongs submitted their proposal through the newspaper coupon on Jawa Pos newspaper. The activities allowed the communities in Surabaya increased “kerja bakti” which used to be acknowledged as annual activities to clean up the neighborhood area, such as sweeping the drain, cutting back the weeds, burning the debris, repainting the public facilities. In the third month, the activities targeted Wonokromo slump area. Along with support of city government, the program attempted to develop plantation in the slump area in which more than 100.000 volunteers involved “kerja bakti” with planted one million trees.

In the second year, the activities stepped on setting up solid waste management system. It adopted zero waste at grass root level through introducing the concept of circular systems in which as much waste as possible was reused, similar to the way that resources are reused in nature.

According to Erry Suharyadi, the key success of this activity is the huge market share of Jawa Pos which comprised more than 80%. In 2008, participants of SGC was noted more than 1800 communities (rukun tetangga).

Rabu, 15 April 2009

Sriatun Djupri: from the bottom of the heart

Sriatun leaved her home town of Trenggalek and moved to Surabaya in 1973, in Kampong Jambangan. Living in Kampong Jambangan which near Surabaya River in 1970s was far away from good environment. Instead of a dumping ground, slump area, water pollution, or breeding place of disease, Jambangan was well known as the longest lavatory in Surabaya at that time. Most of the migrant families in Jambangan exploited the river for bathing, washing, and as lavatory. The young Sriatun called it as “helicopter”. That was the time that she promised to attack “the helicopters”.

Involving with some organizations, formally called Karang Taruna (youth organization) and PKK (women organization), she started to promote clean environment through avoiding to use the river for dumping. It started from her own home. In 1986, the city government of Surabaya enacted local regulation which mandated each community to manage their waste inventory effectively, from a simple ship-in, to merge of containers into a tank, or a split of waste.
Believing that the regulation would be an effective weapon to fight for “the helicopters”, Ms Sriatun came to her neighborhood to take a look at whom who already pursuit it. Conversely, her neighbors presumed her activities for fund raising. No wonder that nobody would like to met her. The servant or even dog was the one who preferred to welcome her.

In 1996, the Provincial Government granted public sanitation with 9 lavatories for Kampong Jambangan. However, it needed more and more fighting against the community’s bad habit of disposing of excreta anywhere within the river. Jambangan was still under attack by "the helicopters". In 2000, Unilever promoted Clean Brantas River through greening the river. Starting at the house of Ms Djupri, the program distributed the plant to her neighbor for free. Unilever also renovated the public sanitation which provided by the government. She also got supports from various organizations to compost organic materials, such as Mr Yadi, and Mr Takakura. Many volunteers were involving the program with support from foreign and domestic funding. Nowadays, we cannot find any “helicopters” in Jambangan.

She got many awards for environment movement, i.e. Environment Survivor 2006 from Surabaya Mayor Bambang Dwihartono, Global Award from Austria 2006, Kalpataru 2008 from President Yudhoyono, Green and Clean Award 2007 from Jawa Post, Heroes 2009 in Kick Any Metro TV.

By Hendy, Bachtiar Pugoh, Wulan Liliana, Wulan Lusiana, Christina Dewi (B)

Soebakri Siswanto: Ketua Paguyuban PKL Trisula Taman Bungkul

Pak Sis, begitu panggilan akrabnya, dipilih oleh para pedagang kaki lima di Taman Bungkul untuk menjadi ketua paguyuban PKL. Keberadaan PKL pada 1999 menyebabkan kawasan Taman Bungkul kumuh dan tidak teratur. Mereka kemudian mengajukan usulan kepada Pemerintah Kota Surabaya untuk mendapatkan pembinaan. Paks Sis adalah warga Bungkul yang menjadi juru kunci makam dan sebagai generasi ke-7 dari Sunan Bungkul, mertua Sunan Giri.

Pada 2006, Dinas Koperasi Surabaya menjadikan PKL di taman Bungkul sebagai paguyuban dengan nama PKL Trisula. Sementara itu, makam Sunan Bungkul direnovasi menjadi sebuah taman yang asri lengkap dengan jaringan wifi yang bisa diakses secara gratis.

Para PKL di Taman Bungkul tidak dipungut biaya sewa. Mereka hanya dibebani biaya listrik sesuai pemakaian kiosnya. Untuk menjaga kebersihan, mereka dikenai biaya Rp 7 juta per bulan. Untuk memperkuat tali silaturahmi, paguyuban ini mengadakan arisan sebulan sekali. Rapat evaluasi diri juga dilakukan dua minggu sekali.

Pada 2009, PKL Trisula mengundang anak yatim piatu ke Taman Bungkul. Anak-anak ini diberi voucher makan untuk jajan di warung-warung mereka sekaligus bermain di Taman Bungkul. Tahun depan, kunjungan balas akan dilakukan.

Maret 2009, Yulianty, Angga Wahyu, Martino Asep, Areni, Rahardian Wiweka (B)

Kamis, 12 Maret 2009

Pembagian Kelompok

Berikut ini pembagian kelompok per kelas dan isu yang akan dibahas. belum berarti, target tokoh yang akan diwawancara belum ada.


Tokoh Terpilih:
Ibu Sriatun Djupri, penyelamat lingkungan, oleh Aditanto Wargono, dkk.



Kelas C
LINGKUNGAN: Jawa Pos (Jeffry, Dwi Haryoko, Karno, Tony Agus, Riki Kurniawan), belum , belum (Leonardo Lie, Mickail, Cinthya, Aluisius), belum (Aditanto, Lina, Benyamin), belum (Rendra Antar, Dewi Erti Ramadhani, Januar Prasetyo, Densinta Wirianti, Trivani Oezir)

UMKM: belum (Yudi Hartanto, Ivan Alexander, Henrie Kurniawan, Leonard Awyanto, I Kadek Dwipayana), belum (Nikito, Widha Jaya, Rica, Vivi, Salim), belum (Irine Limbowo, Ivana Sani, Grace Mariani, Steven, Felix), belum (Dian Eka, Vonny Wong, Liesita, Sici Pujiwati, Rosiana)

Kelas D
LINGKUNGAN: (Yuliana Lauren, Ivana Stevani, Steven Wiryono, Muliawan Prabawa, Yuriharja Tanama), (Aisha Ramayanti, Fitri Ratna Wulan, Cynthia Rizka, William Yusep), (Helena Gracia, Lina Afriliani, Eka Jaya Pranata, Theresia Laras, Dimas Realino), (Yohanes Putra, Begie Setya, Vinneta, Eka Sulistyawati), belum (Synta Sutanto, Marselly, Margaretha Sulayman, Stefanus Rocky Suryadi, Tommy Wijaya)

UMKM: belum (Cindi Santoso, Maria Yuvina, Devie Sanjaya, Vicky Wijaya, Sidharta Martin), belum (Marco Yohan, Edric Lomewa, Azhar Fajar, Gede Ardi, Rizky Martha), belum (Lidyah Herestraty, Arya Ranggawuni, Dimas Realino(?))

Rabu, 11 Maret 2009

Tugas Kelompok

Mewawancarai seorang tokoh yang bergerak dalam bidang lingkungan, transportasi, dan usaha kecil. Carilah tokoh yang benar-benar mempunyai peran dalam melakukan perubahan terhadap dinamika kota Surabaya.

Untuk menggali informasi tentang keberlanjutan perjuangannya, metode wawancara bisa berupa kombinasi antara timeline dan kerangka keunggulan kompetitif. Pengembangan metode wawancara sangat dianjurkan.

Laporan berupa transkrip (1) hasil wawancara dan (2) dokumen elektronik (multimedia). Sertakan pula dinamika kelompok dalam menyelesaikan tugas ini.

Sabtu, 24 Januari 2009

Meredam Krisis Global di Jawa Timur

A. Hery Pratono
Gelombang krisis dunia sudah bisa dirasakan dampaknya di Jawa Timur. PHK sudah terjadi di sentra-sentra industri yang mengandalkan pesanan, khususnya untuk pasar ekspor. Fenomena ini mirip dengan Depresi Besar 1920an, yang waktu itu menghancurkan perekonomian Jawa Timur. Padahal, awal 1900an adalah era keemasan ekonomi Jawa Timur sebagai sentra industri gula dunia. Buktinya, mesin uap sebagai teknologi paling canggih di Asia Tenggara saat itu pertama kali ada di Jawa Timur, yaitu di Wonokromo.

Krisis global waktu itu yang menggeser Inggris sebagai pusat ekonomi dunia digantikan oleh Amerika. Selanjutnya bisa ditebak, secara perlahan tapi pasti, dinamika ekonomi di Pulau Jawa juga mengalami pergeseran ke arah Jawa bagian barat. Mungkinkah Jawa Timur bertahan menghadapi krisis global abad 20-an ini, yang nampaknya akan menggeser peran Amerika?
Dalam pendekatan ekonomi makro yang mengandalkan analisis pertumbuhan ekonomi, untuk mengurangi angka pengangguran sekaligus menyerap pertumbuhan angkatan kerja di Jawa Timur yang mencapai angka 500 ribu dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7%. Namun rasanya cukup sulit untuk mencapai angka ini. Dengan kondisi krisis seperti ini, pertumbuhan ekonomi sebesar 5% sudah cukup bagus bagi perekonomian Jawa Timur.

Dengan perkiraan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2008 Jawa Timur mencapai Rp 500 trilyun, pertumbuhan sebesar 5% dari PDRB berarti setara dengan Rp25 trilyun. Dengan perkiraan ICOR (Incremental Capital Output Ratio) sebesar 5 maka diperlukan investasi sekitar 5 x Rp 25 trilyun, yaitu 125 trilyun. Mungkinkah Jawa Timur bisa menggenjot investasi sebesar itu?

Kebutuhan investasi sebesar 125 trilyun adalah sebuah angka yang cukup besar mengingat Penanaman Modal Asing 2008 sampai Oktober dilaporkan BPS sebesar US$2,5 milyar atau setara dengan 27 trilyun sedangkan investasi domestik diperkirakan mencapai 10 trilyun. Sisanya ditutup dari investasi pemerintah dan kredit sektor perbankan. APBD Propinsi 2008 sebesar 7,3 trilyun dan total APBD Kabupaten Kota kurang lebih berkisar pada angka 35 trilyun. Kalau kita perhatikan lebih jauh, rata-rata alokasi APBD untuk belanja langsung tidak lebih dari 25% atau setara dengan 10 trilyun.

Dengan dana pihak ketiga sektor perbankan atau tabungan masyarakat sebesar 80 trilyun, kredit sektor perbankan tahun 2008 rata-rata 75% dari load deposit ratio atau hanya mampu memenuhi sekitar Rp 60 trilyun, dengan asumsi suku bunga cukup kompetitif di kisaran 9 sampai 10%. Itu pun masih ada kekurangan sekitar 10 trilyun. Dengan pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 4%, diperkirakan gelombang pengangguran akan semakin besar lagi.

Dampak dari scenario terburuk tersebut harus ditanggung di sentra-sentra Industri. Sementara daerah-daerah pinggiran seperti kabupaten-kabupaten yang terletak tepi laut selatan masih bisa bertahan dengan bergantung pada ekonomi subsistence atau mengandalkan kebun sendiri untuk sekedar memenuhi kebutuhan pangan.

Namun demikian, program-program stimulus yang akan terserap ke kawasan sentra-sentra ekonomi hendaknya tidak mengabaikan kebutuhan dasar kawasan pinggiran. Rata-rata daerah-daerah pinggiran tersebut hanya mampu menghasilkan PDRB Rp 1 trilyun per tahun. Bandingkan dengan kebutuhan investasi Jawa Timur yang mencapai 125 trilyun yang akan terserap ke Surabaya dan Sekitarnya. Paling tidak harus ada jaminan untuk memenuhi pendidikan dan kesehatan dasar. Sudah selama 10 tahun terakhir, rata-rata pendidikan masyarakat Jawa Timur hanya berkisar di angka 6 tahun atau hanya lulus SD. Tidak heran ICOR di Jawa Timur cukup tinggi alias ekonomi yang tidak produktif.

Minggu, 09 November 2008

Pasar Blauran vs BG Junction



Lokasi berdirinya BG Junction yang berdekatan dengan Pasar Blauran menimbulkan persaingan. Berdirinya BG Junction sebagai pusat perbelanjaan modern menawarkan berbagai fasilitas yang lebih lengkap dan modern atau lebih dikenal sebagai mall. Sebaliknya, Pasar Blauran sebagai pasar tradisional masih berkutat dengan masalah klasik pasar, yaitu lahan parkir yang sempit, pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan, maupun kebersihan dan bau yang tidak sedap. Pasar Blauran sendiri mempunyai cita-cita menjadi pasar semi modern seperti DTC.

Aprilya, Fajar, Ivan, Yohanes, Ricky, Putra, David, Christoper, Daniel, Selvi, Juliani

Blauran: Bukan Sekedar Pasar Emas


Setiap pasar memiliki ciri kas masing-masing. Demikian juga dengan Para Blauran yang dulunya merupakan tempat perdagangan emas. "Kalau dulu yang terkenal di Pasar Blauran itu jual beli emas, tetapi sekarang pasar Blauran juga menjual buku (baru/bekas), konveksi, jajanan tradisional, perlengkapan manten dan juga merancang. Jadi sekarang pasar Blauran tidak hanya identik dengan emas, hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia di sini", demikan hasil wawancara dengan Bu Yayuk Kaur Umum Pasar Blauran. Lantai 2 khusus menjual konveksi dan tas.

Komoditas yang dijual di Pasar Blauran berasal dari sekitar Surabaya saja, seperti keperluan pernikahan dari Pasar Kapasan. Para pedagang buku mendapatkan pasokan dari distributor penerbit, sementara pemasok "jajan pasar" atau kue-kuemenitipkan barangnya pada para pedagang.

Aprilia, Imam, Ario, Aditya, Fawaz, Handi, Anggarini, Putri, Gaby, Rona

Wonokromo: Pasar Semi Modern

Sejak awal berdirinya pada 1955, Pasar Wonokromo yang terletak di pintu masuk Surabaya bagian selatan, mengadakan renovasi gedung pada 2004. Pembangunan pada 1955 dan 2002 mempunyai alasan yang sama, kebakaran. Meskipun menyediakan beranekaragam kebutuhan, pasar ini terkenal sebagai pasar konveksi atau pakaian. Dengan jumlah stan aktif mencapai 3.525 unit, total pendapatan dari pengelolaan pasar mencapai lebih dari Rp 3 milyar per tahun.

Nocika, Dewi, Pudika, Fitra, Dwi, Resty, Leilani, Francisca, Croline, dan Devina

Nasib 95% Sampah di Pasar Keputran

Dipimpin oleh Bapak M. Kholik, bagian kebersihan Pasar Keputran harus berhadapan dengan volume sampah sayur-sayuran yang mencapai 40 m3 per hari. Bekerjasama dengan Pusdakota Ubaya dan Kitakyusu Jepang, pengembangan model pengelolaan sampah pasar ini dilakukan dengan daur ulang sampah menjadi pupuk kompos, dengan lokasi pengolahan di samping sebelah timur pasar. Pada saat survey ini dilakukan, jumlah sampah yang berhasil diolah baru mencapai 5% dari total volume sampah. Setiap hari, sampah-sampah tersebut diangkut oleh pemborong/rekanan untuk didaur ulang. Di bawah pimpinan Pak Kholik, pengolahan sampah dikerjakan oleh para tukang sapil sebanyak 30 orang. 95% sampah masih dibuang ke lahan pengampungan akhir di Benowo.

Pasar Genteng: Tertua

Melalui GB No 6 8 Desember 1872, pasar genteng diresmikan dan dinyatakan sebagai pasar tertua di Surabaya. Saat itu, bango-bango swasta disewakan sekitar 1 sampai 5 sen untuk setiap hari pasaran. Atas usul dari Mr Abendanon, Pemerintah Kolonial mengambil alih bango atau kedai tersebuts selanjutnya pengembangan los-los pasar disediakan oleh pemerintah. Kebijakan mengambil alih pasar-pasar partikelir ini dilakukan atas kebijakan Gemeente pada 1906.

Pada 1916, sebuah los pasar sepanjang 24 meter dibangun di Pasar Genteng untuk pedagang elektronik. Pasar Genteng tidak pernah berpindah tempat dan tidak pernah mengalami musibah kebakaran. Perluasan lahan dan penambahan bangunan dilakukan pada 1975. Pada 1987 dilakukan perbaikan dan pemasangan keramik. Bagaimana dengan tahun 1990-an?

Saat ini, pasar genteng terdiri dari 3 lantai. Lantai bawah untuk penjual bahan makanan. Alasannya, untuk mempercepat dan mempermudah pasokan karena bahan makanan tidak bisa tahan lama. Lantai 2 dan 3 untuk barang-barang elektronik.

Seperti halnya pasar tradisional, kondisi sarana dan prasarana pendukung sangat buruk. Toilet sangat kurang peramatan. Keterbatasan lahan parkir, menyebabkan mobil harus parkir di jalan raya yang cukup jauh dari pasar. Petugas keamanan jarang terlihat.

Sejarah: Gunawan, Iskandar, Fony, Lylys, Steven, Budi, Meriany, Olivia, Meilani, Yeni, Lucia.
Komoditas: Salmon, Yuso, Iwan, Elen, Dian, Lilia, Fernando, Citrawati, Martinus, Mia, Arie
Fasilitas: Mario Marselinus, Maulidia, Diva, Steffy, Fiona, Cahya, Sugih, Meliza, Danny, Kent

Jumat, 07 November 2008

Pasar


Pusat Grosir Surabaya = Pasar Turi (?)
















"PGS ini jauh sebelum Pasar Turi terbakar sudah didirikan, dan banyak pedagang dari Pasar Turi sudah membeli. Jauh sebelum kebakran mereka sudah mempunyai investasi di PGS ini." Demikian ditekankan oleh Bapak Riko, dari PT Jasamitra Propertindo pengelola PGS. Menurut Mbak Kiki, pegawai toko boneka, "Sebelum kebakaran, kan sudah beli stan di sini (PGS), rencananya buat asesoris, ternyata setelah kebakaran ga jadi asesoris. Jadinya, boneka yang dipindah ke sini. Pindahnya mulai bulan Juli kemaren.

Sebelum survey ke sana, kami kira PGS itu relokasi Pasar Turi. Pasar Turi memang langganan kebakaran. Tahun 1950, 1970, dan terakhir 2007.

Deny, Halim, Agung, Rellitha, Wenty, Belinda, Nyoman, Made, Setiawan, dan Padma

Blauran: Apalah Arti Sebuah Nama

Menurut Pak Hakim, pedagang buku di Pasar Blauran sejak 1994, kata ”blauran” berasal dari kata Blau = pagar dan ran = pasar. Jadi Blauran adalah pagar yang mengelilingi pasar. Penjual menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara jaman dahulu dengan jaman sekarang. Perbedaan ini ditunjukkan dengan bahwa dahulu terdapat ”harga keluarga” maksudnya harga buku atau barang-barang yang dijual di pasar Blauran dulu bisa ditawar, tetapi pada sekarang ini harga buku yang dijual sudah ada standard harga jualnya berbentuk seperti koran. Sekarang ini, harga-harga buku yang dijual di Pasar Blauran rata-rata harganya sama dengan yang dijual toko buku Uranus.

Ada juga versi lain tentang nama Blauran.Menurut Pak Edi Samson ketua Tim 11 Von Faber Cagar Budaya, ”blauran” lahir dari dua suku kata berbahasa Belanda, yakni blauwe (biru) dan rand (renda). Sebab, dulu sekitar 1700 dikompleks Blauran tersebut didirikan tembok panjang putih. Tembok setinggi lima meter tersebut menjadi pembatas rumah golongan pengusaha Tionghoa yang kaya raya dengan warga pribumi. Agar tembok tersebut manis dipandang, para pengusaha mengecatkan renda biru ditembok itu, sehingga menjadi Blauran. Namun, ada versi lain tentang nama Blauran menurut Romo Bintarti pada tahun 1964. Asal mula nama kampong itu adalah kata Balur atau Mbalur yang berarti mengeringkan ikan. Sebagai tempat mengeringkan ikan, warga lebih enak menyebut nama mblauran. Selain nama, ada persoalan historis yang menarik pada kampung-kampung tersebut. Benih-benih nasionalisme arek Surabaya juga bermula dari kompleks tersebut. Pendatang luar kota saat ini lebih suka menyebut bertandang ke Bubutan Golden Junction dari pada menyebut kewilayahan yang memiliki nilai historis kuat. Pendirian pusat perbelanjaan tak terasa juga menenggelamkan perdagangan tradisional di kompleks Blauran. Padahal, sejak zaman kolonial Belanda, lingkungan itu dikenal sebagai pusat perbelanjaan pribumi. Menurut Achudiat, Blauran adalah daerah keraton. Di sekitarnya tumbuh kampung-kampung yang dulu merupakan kampung para kerabat serta abdi kerajaan. Pusatnya terletak di alun-alun Contong. Kawasan sekitarnya seperti Bubutan, Kranggan, Blauran, dan Maspati adalah daerah sekitar pusat pemerintahan.

Devi, Messa, Yunieta, Mellisa, Yuli Susilawati, Kiky Zero, Novianti, Febriana, naomi, Riska, Mita Ayu

Blauran: pasar pagar atau renda biru?

Pasar Blauran terkenal dengan pasar buku, meskipun di depan pasar nampak sederet toko emas. Belum lagi jenis makanan yang dijual.

Menurut Pak Hakim, pedagang buku di Pasar Blauran sejak 1994, kata ”blauran” berasal dari kata Blau = pagar dan ran = pasar. Jadi Blauran adalah pagar yang mengelilingi pasar. Penjual menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara jaman dahulu dengan jaman sekarang. Perbedaan ini ditunjukkan dengan bahwa dahulu terdapat ”harga keluarga” maksudnya harga buku atau barang-barang yang dijual di pasar Blauran dulu bisa ditawar, tetapi pada sekarang ini harga buku yang dijual sudah ada standard harga jualnya berbentuk seperti koran. Sekarang ini, harga-harga buku yang dijual di Pasar Blauran rata-rata harganya sama dengan yang dijual toko buku Uranus.

Ada beberapa versi lain tentang cerita Pasar Blauran. Berdasarkan sumber dari Litbang di Kantor Pasar Blauran, "blauran" berasarl dua suku kata berbahasa Belanda, yakni blauwe (biru) dan rand (renda). Sebab, dulu sekitar 1700 dikompleks Blauran tersebut didirikan tembok panjang putih. Tembok setinggi lima meter tersebut menjadi pembatas rumah golongan pengusaha Tionghoa yang kaya raya dengan warga pribumi. Agar tembok tersebut manis dipandang, para pengusaha mengecatkan renda biru ditembok itu, sehingga menjadi Blauran. Namun, ada versi lain tentang nama Blauran menurut Romo Bintarti pada tahun 1964 (seperti artikel yang dikutip oleh Sarkawi B. Husain, sebagai dosen sejarah Unair, dalam tulisannya yang berjudul Sepanjang Jalan Kenangan : Makna dan Perebutan Simbol Nama Jalan di Kota Surabaya). Asal mula nama kampong itu adalah kata Balur atau Mbalur yang berarti mengeringkan ikan. Sebagai tempat mengeringkan ikan, warga lebih enak menyebut nama mblauran. Selain nama, ada persoalan historis yang menarik pada kampung-kampung tersebut. Benih-benih nasionalisme arek Surabaya juga bermula dari kompleks tersebut. Pendatang luar kota saat ini lebih suka menyebut bertandang ke Bubutan Golden Junction dari pada menyebut kewilayahan yang memiliki nilai historis kuat. Pendirian pusat perbelanjaan tak terasa juga menenggelamkan perdagangan tradisional di kompleks Blauran. Padahal, sejak zaman kolonial Belanda, lingkungan itu dikenal sebagai pusat perbelanjaan pribumi. Menurut Achudiat, Blauran adalah daerah keraton. Di sekitarnya tumbuh kampung-kampung yang dulu merupakan kampung para kerabat serta abdi kerajaan. Pusatnya terletak di alun-alun Contong. Kawasan sekitarnya seperti Bubutan, Kranggan, Blauran, dan Maspati adalah daerah sekitar pusat pemerintahan.

(Devi, Messa, Yunieta, Mellisa, Yuli, Kiky Zero, Novianti, Febriana, Naomi, Riska, Mita Ayu Rahmani, kelas D)

Kamis, 06 November 2008

Komunitas Pedagang Pasar Atom

Di Pasar Atom ada komunitas pedagang yang diberi nama HIPPA, dengan anggota sekitar 600 orang atau 50% dari jumlah pedagang. Salah satu kegiatan utama dari komunitas pedagang ini adalah memfasilitasi para pedagang pasar Atom untuk membayar pajak. Kegiatannya antara lain penyuluhan pajak sampai membantu melakukan pembayaran pajak. Menurut Pak WIlliam (mantan ketua HIPPA), iuran yang dibayar oleh para anggota antara Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per bulan. Kepengurusan HIPPA ini berganti setiap 2 tahun. Selain HIPPA, di Pasar Atom juga terdapat perkumpulan cator Xiang Qi. Menurut Pak Robert, anggota perkumpulan ini adalah engkong-engkong lansia. Untuk mengisi waktu luang, para lansia di Pasar Atom ini mempunyai kegiatan bermain catur. Maka jadilah Xiang Qi. Sementara itu, Pasar Atom tahap III mempunyai sekumpulan arisan setiap bulannya.

Siauw Wandy, Danny Kurniawan, Monica Listya, Entyar Winarti, Haristia Purnamasari, Francisca Cindy Wijaya, Samuel Kusditraja, Amelia Soegiharto, Yonathan Hermantara, Alexander Lays, dan Rosalina Setiawan.

Pasar Keputran: Riwayatmu Kini

Entah mengapa pasar ini dinamai Pasar Keputran. Keputran sendiri sebenarnya mempunyai arti tempat putra-putra raja tinggal dan belajar. Di dalam pasar terdapat sebuah gang bernama Gang Kepoeteran, yang diapit oleh bangunan-bangunan kuno milik orang asli Surabaya. Tempat yang disebut "wilayah kuno" tersebut sekarang menjadi pusat jual beli sayur mayur terbesar di Surabaya.

Berawal dari sekumpulan pedagang yang semakin lama semakin banyak, pasar ini dikembangkan pada 1979. Dari luas sekitar 100 meter persegi, pasar ini diperluas hampir satu hektar yang menampung lebih dari 900 pedagang. Dagang sayur memberikan peluang bagi siapapun tanpa syarat pendidikan dan modal yang besar. Tidak heran, krisis ekonomi 1998 membuat jumlah pedagang di pasar ini meningkat, selain itu jumlah pengungsi akibat konflik di Sampit juga menjadikan pasar ini semakin padat.

Para pedagang dikenal dengan sebutan "mrijo". Awalnya yang bekerja sebagai mrijo adalah perempuan dengan membawa obor sebagai penerangan dan keranjang tampah berisi sayur di atas kepala. Para mrijo ini berjualan mulai pukul 2 sampai 3 subuh. Bu Tani, salah seorang "mrijo" selama 53 tahun. Dia mulai berjualan pada usia 14 tahun. Sekarang yang disebut mrijo adalah laki-laki yang mendorong gerobak sayur atau mengendarai sepeda motor membawa sayur sebagai barang dagangan.

Pasar sayur ini buka mulai pukul 14.00 hingga pukul 6.00 pagi. Ketika sebagian penduduk Surabaya terlelap, justru aktivitas pasar ini semakin ramai. Bahkan aktivitas perdagangan tumpah ruah ke jalan raya. Karena jumlah pedaganga semakin banyak, pasar ini sudah tidak mampu menampung aktivitas perdagangan sayur. Sejak dibangun pada 1979, pasar ini tidak pernah dibangun lagi. Rencananya, pemerintah akan membangun pusat perdagangan sayur yang lebih luas lagi, sekitar 8 hektar atau 8 kali lipat dari pasar Keputran sekarang.

oleh: William Howardy, Fanny Oktaviana, Lidya Widhianto, Ratih Kusuma, Ika Permatasari, Ferawati Ulrica, Effie Setyani, Sin Linda, Valeria Diona, Fenny Herawati, dan Peter Sie (kelas B).